Sekarang ini, banyak kesempatan untuk kamu terus melakukan donasi. Kamu sekarang ini bisa berdonasi untuk orang yang membutuhkan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Banyak lembaga yang menjadi penggalang serta penyalur dana donasi.
Sayangnya, trend berdonasi ini menjadi kesempatan bagi para pihak yang tidak bertanggung jawab untuk membuat donasi palsu alias fake charities. Modus penipuan ini dikemas begitu rupa sehingga terlihat seperti donasi yang resmi.
Agar uangmu tidak masuk ke kantong pribadi oknum tertentu, lebih baik kamu menyimak informasi berikut ini.
Red Flag dari Fake Charities
1. Adanya Tekanan untuk Memberikan Donas
Siapa, sih, yang suka ditekan atau di-pressure? Apalagi kalau sudah berbau donasi, gak ikhlas, dong, donasinya kalau dipaksa-paksa. Begitulah mungkin pikiran kamu ketika mendapatkan paksaan tersebut.
Kenyataannya, paksaan tersebut bisa tidak terlihat alias eksplisit. Prolognya kebanyakan dibentuk agar kamu merasa iba atau kasihan sehingga kamu pun melakukan donasi yang semulanya tidak diinginkan.
Meskipun demikian, kamu juga bisa menemui tanda-tanda paksaannya, seperti mengatakan harus mengirimkan uang hari/saat itu juga. Jika sudah demikian, sudah dapat dipastikan itu red flag dari tawaran donasi. Sebab, donasi tidak ada yang bersifat memaksa dan sebenarnya bisa dilakukan kapan saja, tanpa ikatan waktu tertentu.
2. Mendapatkan Ucapan “Terima Kasih” Gaib
Biasanya, setelah melakukan transaksi, kamu akan menerima tanda terimanya. Nah, tidak jarang juga ada yang mengirimkannya dalam bentuk ucapan terima kasih, baik melalui email maupun WhatsApp.
Tapi, pernahkah kamu mendapatkan ucapan terima kasih tersebut, padahal tidak merasa melakukan transaksi? Nah, donasi palsu ini juga sering mengirimkan hal demikian.
Ketika mendapatkan seperti pesan ini, pastinya kamu akan bingung sehingga membuka pesannya. Namun, hati-hati, di sini lah letak jebakannya. Bisa jadi, terdapat permintaan untuk menekan link yang diberikan. Apapun yang terjadi, lebih baik kamu tidak menekan link tersebut karena bisa jadi itu merupakan link phishing.
3. Permintaan untuk Mengirimkan Uang
Sebagaimana yang diketahui, permintaan uang ini biasanya dibaluti dengan skenario-skenario tertentu yang tentunya membuatmu merasa iba. Karena tersentuh hatimu, kamu pun mengirimkan sejumlah uang.
Memang, sih, niatmu memang berdonasi dan menganggapnya sebagai sedekah. Dengan begitu, kamu mungkin tidak akan peduli ke mana uangmu akan pergi, toh itu diniatkan menjadi sedekah.
Mungkin itu tidak terlihat begitu membahayakan, tapi bagaimana jika nominal yang diminta sangat besar? Atau bahkan, penipu menanamkan malware tertentu sehingga rekeningmu terkuras habis. Maka, alangkah baiknya untuk tidak asal mengirimkan uang dengan dalih “sedekah”.
Cara Menghindari Fake Charities
- Perhatikan dan ketahui lembaga-lembaga penggalang donasi yang resmi dan yang telah diketahui secara nasional.
- Jangan berikan informasi pribadi, termasuk informasi finansial, kepada siapa pun meskipun ia mengaku sebagai pihak penggalang dana.
- Lakukan pengecekan identitas pihak yang menawarkan donasi, seperti mengecek nomor telepon atau email.
- Lakukan transaksi menggunakan alat pembayaran yang memberikan bukti kontribusi. Misalnya, gunakan kartu kredit atau debit agar dapat terlihat besaran donasinya beserta merchant yang digunakan saat bertransaksi.
Jangan Hanya Ingin Berdonasi Tanpa Berpikir Panjang
Kamu memang boleh saja untuk melakukan donasi ke mana pun dan siapa pun itu. Tapi, kamu pun harus cermat dalam memilih lembaga yang menggalang dana. Jangan sampai kamu berdonasi yang berujung merugikanmu.
Oleh karena itu, kamu perlu memastikan terlebih dahulu kebenaran dan akreditasi dari lembaga yang menawarkan penggalangan dana tersebut. Hanya lakukan donasi pada lembaga yang sudah pasti-pasti saja sehingga keamananmu tetap ter-JAGA.
Baca juga Artikel Lainnya: