Kemudahan belanja online memang memanjakan kita. Tinggal klik, bayar, barang sampai. Namun, di balik kemudahan itu, ancaman penipuan online shop (olshop) terus mengintai dengan modus yang makin canggih.
Sering tergiur harga HP murah di Instagram? Atau tiba-tiba dapat paket COD padahal tidak pesan? Hati-hati, kamu sedang diincar oleh penipu!
Agar kamu tidak menjadi “mangsa empuk” berikutnya, penting untuk mengenali pola kejahatan mereka. Berikut adalah ulasan lengkap 5 modus penipuan online shop yang paling marak terjadi dan tips cerdas menghindarinya.
5 Modus Penipuan Online Shop
1. Harga Murah yang Tidak Masuk Akal
Modus ini merupakan yang paling klasik namun paling banyak memakan korban. Penipu biasanya menawarkan barang elektronik (HP, Laptop) atau tas branded dengan harga jauh di bawah pasaran, kadang dengan alasan “Barang Black Market (BM)” atau “Cuci Gudang Bea Cukai”.
Penawaran ini umumnya bersifat too good to be true. Contohnya, kamu membeli iPhone 11 seharga Rp500.000 dengan klaim original dan “cuci gudang”. Waspada, ini bisa jadi tanda bahaya. Selalu cek harga pasar sebagai perbandingan.
2. Modus Segitiga (Pencucian Uang)
Modus ini disebut “Segitiga” karena melibatkan 3 pihak: kamu (pembeli), penipu (perantara jahat), dan toko asli (pemilik barang). Nah, modus ini umumnya terjadi jika kamu bertransaksi di luar marketplace resmi. Cara kerjanya pun cukup unik, yaitu:
Begini alur jebakannya:
- Kamu melihat iklan produk murah di akun Penipu, lalu setuju membelinya.
- Kamu mentransfer uang ke rekening Penipu.
- Setelah uangmu masuk, Penipu memesan barang yang sama ke Toko Asli (misal di Marketplace resmi) dan mengirimkan resi palsu untuk meyakinkanmu.
- Biasanya akan ada dua kemungkinan, yaitu barang yang dikirimkan merupakan barang palsu atau barang benar dikirimkan namun penipu tidak benar-benar membayarkan barangmu ke toko asli. Alhasil, toko asli akan menagihkan pembayaran lagi kepadamu dan penipu kabur membawa uangmu.
Bahaya sekali, bukan? Agar kamu tak terjebak modus ini, perhatikan selalu nama pengirim paket atau resi pengiriman. Kemudian, pastikan kamu selalu bertransaksi di marketplace terpercaya dan tidak melakukan direct transfer. Lebih aman jika kamu bertransaksi di aplikasi marketplace resmi.
3. Pencurian Data Pribadi (Phising)
Hati-hati jika ada penjual yang meminta data berlebihan. Hal ini bisa jadi merupakan modus phising yang bertujuan membobol rekening atau limit PayLater kamu. Umumnya, phising dilakukan dengan cara berikut:
- Pelaku berpura-pura menjadi petugas resmi dan meminta foto KTP, kartu kredit, atau OTP via telepon dengan dalih verifikasi data.
- Pelaku berpura-pura menjadi petugas resmi dan mengirimkan link aneh yang jika kamu klik data-data pribadimu dapat langsung dicuri.
Ingat, kode OTP, CVV, dan PIN adalah rahasia mutlak. Jangan pernah berikan kepada siapa pun termasuk penjual online!
4. Jebakan Paket COD Fiktif
Seiring dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap online shop, membuat beberapa marketplace menyediakan layanan Cash on Delivery (COD) agar lebih menarik hati pelanggan. Layanan ini mengizinkan pembeli untuk membayar barang ketika sudah sampai di tangan, tanpa repot mentransfer sejumlah uang terlebih dahulu. Tentunya hal ini sangat memudahkan serta menjadi salah satu jaminan kepercayaan customer pada online shop tempatnya berbelanja.
Sayangnya, beberapa oknum memanfaatkan layanan ini sebagai salah satu modus untuk menipu. Biasanya, mereka akan mengirimkan paket ‘misterius’ dan meminta pemilik rumah untuk membayarnya. Padahal, tak ada yang memesan atau membeli barang tersebut.
Itulah pentingnya bagi kamu untuk selalu teliti sebelum menerima paket dari kurir, apalagi jika tak merasa membeli suatu barang. Pastikan pula tak ada anggota keluarga yang memesannya.
Jangan lupa untuk selalu ingatkan orang tua dan anggota keluarga lainnya agar selalu berhati-hati terhadap modus penipuan yang satu ini.
5. Biaya Tambahan di Luar Aplikasi
Setelah kamu transfer, penjual “nakal” akan menghubungi (biasanya via WhatsApp) meminta biaya tambahan dengan alasan ongkir kurang, biaya asuransi, atau biaya karantina (untuk barang BM). Mereka pun biasanya akan menambahkan bumbu-bumbu seperti paket terkendala pengiriman, dan sebagainya.
Solusinya, tentu jangan transfer! Transaksi resmi di marketplace tidak pernah meminta biaya tambahan di luar total tagihan resmi.
Jadilah Penjual dan Pembeli yang Bijak
Itulah beberapa modus penipuan yang mengintai ketika kamu bertransaksi melalui online shop. Jangan sampai hanya karena tergiur promo atau penawaran yang menarik, kamu justru mengalami kerugian.
Namun, kamu tak perlu khawatir berlebihan karena pasti masih banyak penjual atau online shop yang jujur dan terpercaya. Kuncinya, tetap hati-hati dan selalu teliti, ya!
Baca Juga: